Setitik embun Pagi

MIE KOPYOK

19 September, 2009 · Leave a Comment

Makanan kenangan tempoe doeloe jaman esempe ini sekarang sudah lama tidak aku makan karena memang di kota kripik ini tidak ada yang jual. Kesegaran kuah dan kemriukan krupuk gendar, plus lontong dan mie nya masih terasa di memori. Untuk mengobati rasa rindu makanan mie kopyok ini mungkin mudik tahun ini 2009 bisa terlaksana. Kabar terakhir disekitaran terminal passing demak ada…searching dan hunting ahhhh….

Hunting di google menemukan beberapa resep, jadi perlu di dokumenkan di blog ini untuk anak cucu …he..he…

Mie kopyok makanan khas daerah Semarang dan sekitarnya termasuk Demak dijual di pagi hari sampai siang jam 12an sebagai menu sarapan, di jual oleh bapak-bapak dengan angkring maupun gerobak dorongan dijajakan keliling kampung. Rasanya segar.. dengan tauge setengah matang

Bahan:
- 500 g mie kuning basah, seduh
- 250 g taoge rebus setengah matang, tiriskan
- Lontong
- kecap

Bahan Kuah:
- 2 liter kaldu rebusan ayam
- 8 siung bawang putih
- 1 sdm garam

Bahan Taburan:
- 2 btg daun bawang, iris halus
- 1 btg seledri, iris halus
- 5 sdm bawang goreng
- kerupuk puli

Cara Membuat:
1. Didihkan kaldu, masukkan bawang putih yang telah di haluskan dan garam
2. Tata lontong, miedan tauge dalam piring, siram dengan kaldu panas
3. Tambahkan kecap, taburkan krupuk puli yang diremas dan bahan taburan lainnya
4. Sajikan panas-panas

→ Leave a CommentCategories: 1
Tagged:

Mengaca diri Sistem Pendidikan Kita

19 September, 2009 · 1 Comment

Artikel ini saya ambil dari webnya intisari online.

Sistem pendidikan kita dari SD sampai PT perlu mengaca pada apa yang telah dilakukan oleh saudara Joko Sasmito. Dengan didikan dan racikan ala beliau telah mampu menciptakan cendikiawan & ilmuwan2 yang hebat. Kalau dibandingkan dengan sistem pendidikan formal akan sangat jauh dan mungkin butuh waktu cukup lama.

Tetapi satu saran yang membangun untuk beliau, sebernarnya ide beliau dapat dikembangkan untuk salah satu (atau salah semua) sistem pendidikan kita. Tetapi memang juga dipahami oleh kita semua, tergantung pada siapa yang memimpin negeri ini apa pemerintah mau. Karena kompleksitas kepentingan dan urusan golongan masih menjadi nomor dua dinegeri ini. Tetapi kita tetap mengharap suatu saat masa-masa emas di Indonesia akan terwujud khususnya ilmuwan2 muslim. Semoga…

BERIKUT INI COPY LANGSUNG DARI WEB INTISARI ONLINE
==========================================

KRIPIK PEDAS DARI IMOGIRI

Rasanya sedikit orang yang seperti Joko Sasmito. Mantan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini memutuskan menjauhkan kelima anaknya dari pendidikan formal. “Sekolah hanya buang waktu dan uang,” kritiknya. Nah, lo! Dia ingin membuktikan: tanpa sekolah formal anak-anaknya tetap berpotensi jadi “orang”! Kini sebagian anaknya sudah menjadi “peneliti dan penemu muda” tanpa embel-embel gelar berkat didikannya di rumah.

Penulis: Muhammad Sulhi

“Kripik (kritik dan pembuktian) pedas” ala Joko Sasmito bak tonjokan buat dunia pendidikan nasional yang sudah berkarat dengan beragam opini negatif. Mulai komersialisasi sekolah, kurikulum yang nyaris berganti saban tahun, sampai kurangnya materi aplikasi yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal hidup di kemudian hari.

“Saya ingin anak-anak punya kemampuan yang betul-betul ada aplikasinya. Sekolah formal punya, tapi tidak seperti yang saya inginkan. Kalau saya paksa mereka bersekolah, sepertinya tak akan ‘jalan’,” bilang Joko, sembari melanjutkan, “Saya tidak antipendidikan formal. Tapi antipemborosan. Saya tempuh jalan ini supaya lebih efisien”.

Oh ya, buat yang masih belum mudeng, Joko Sasmito adalah penemu biocip (biochip), benda kecil yang tak hanya berfungsi sebagai miniatur cip (chip), tapi juga pengganti rangkaian beragam peralatan elektronik. Dengan biocip, beragam peralatan dapat diminiaturkan sehingga berukuran jauh lebih kecil daripada aslinya.

TAK USAH JADI PROFESOR

Joko tidak main-main. Dari kelima anaknya, hanya si sulung Ida Saraswati (24) yang sempat menempuh pendidikan sampai kelas II SMA. Anak kedua, Dika Sistrandari (22) cukup puas dengan lulus SMP, sedangkan anak ketiga Sikla Estiningsih (20) hanya lulus SD. Dua lainnya, Agus Siklawida (17) bersekolah sampai kelas I SMP, sementara si bontot Tifa Siklawati bahkan tak tamat SD.

Seperti dibilang Joko dan diamini Ida Saraswati, mereka sekeluarga kompak meyakini, kemampuan nyata jauh lebih penting daripada kemampuan formal. “Awalnya, mereka tetap saya sekolahkan, lalu saya hadapkan pada pilihan: apakah ingin tetap bersekolah atau mengikuti jejak saya sebagai peneliti,” cetus lelaki yang usianya menjelang kepala enam itu. Hebatnya, mereka semua memilih mengikuti jejak sang ayah. Kepercayaan mereka disambut Joko dengan penuh keyakinan.

“Sejak awal, saya sudah tahu apa saja yang layak diajarkan untuk mereka. Saya sudah menghitung, dengan sekolah yang ada sekarang, mereka tidak akan mencapai itu. Meskipun lulus perguruan tinggi, bahkan menjadi profesor sekalipun, belum tentu mereka bisa membuat biocip, misalnya,” imbuh Joko.

Penelitian yang dikembangkan keluarga Joko Sasmito tidak terpaku pada ilmu tertentu, tapi bersifat multidisiplin. Ida (yang sebelumnya tak pernah berkenalan dengan ilmu komputer), bertugas meneliti dan membuat software komputer, khususnya untuk mendukung hardware yang dihasilkan dua adiknya, Agus dan Dika. Sedangkan Sikla, punya tugas membuat biocip, sekaligus meminiaturkan penemuan adik-adiknya.

Dalam perjalanannya, kelima kakak beradik itu – di bawah bimbingan Joko tentunya – telah sukses membuat fonokardiograf (pendeteksi detak jantung), ekokardiograf (juga untuk jantung), alat pengukur kerja otak (electroencephalogram, EEG), perangkat terapi dan operasi jarak jauh, scanner, serta media penyimpanan seperti compact disc (CD) dan disket (yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan mereka).

Joko kini bahkan tengah mendorong anak-anaknya untuk membuat telepon seluler. Sejak putra-putrinya tak bersekolah lagi, sang bapak mencoba menempatkan diri sebagai penggugah semangat, sekaligus guru dan supervisor buat anak-anaknya. Istilah dia, “Saya yang membuat pertanyaan, lalu saya biarkan mereka berpikir mencari jawabannya.”

Daftar temuan di atas belum termasuk peralatan praktis yang tidak diminiaturkan, karena memang sengaja dibuat untuk pemakaian pribadi atau kemaslahatan umat. Misalnya, komputer pribadi, alat pemompa air otomatis, alat presensi mesjid, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya, Joko sampai tak bisa menyebutkan satu per satu.

Kolaborasi Ida, Dika, Sikla, Agus, dan Iva di laboratorium kini menjadi napas keluarga Joko Sasmito. Dalam menghasilkan dan memanfaatkan alat teleterapi (penyembuhan jarak jauh) contohnya, Agus dan Dika bertugas mengemas biocip teleterapi yang dihasilkan Sikla (kadang dibantu si bontot Iva) dalam kemasan mirip ball point, sehingga mudah di bawa ke mana-mana. Tapi alat itu tak akan bekerja sebagaimana mestinya jika tidak didukung software bikinan Ida.

Berkat software Ida, “permintaan pengobatan” dari telepon seluler pasien diterima dengan baik oleh telepon seluler keluarga Joko Sasmito, lalu dihubungkan secara otomatis ke komputer. Setelah melalui proses pengolahan data, komputer akan “menjawab” permintaan tadi dengan mengirim “obat” berupa sinar laser ke pasien, juga lewat jalur seluler.

“Bagaimana caranya sinar laser itu bisa terkirim lewat ponsel, biarlah menjadi ‘rahasia perusahaan’,” sebut Joko sambil mengumbar senyum tipis. “Yang pasti, bukan klenik atau sihir. Karena pengobatan yang dilakukan murni menggunakan gelombang dan bisa dijelaskan secara ilmiah,” sebut Joko lagi, yang mengklaim sembuhnya sejumlah penderita kanker getah bening dan kista dalam rahim.

DARI HILIR KE HULU

Joko Sasmito yang berlatar pendidikan formal kimia, mengaku menguasai ilmu-ilmu lainnya secara otodidak. “Dari buku hampir tidak ada bahan yang mendukung penelitian saya, begitu juga internet. Saya hampir tidak pernah melihat internet. Semua didapat dari coba-coba di ‘laboratorium’,” jelas lelaki sederhana ini, ketika ditanya dari mana asal ilmu multidisiplin yang ditularkan pada anak-anaknya.

“Saya tidak pakai teori Einstein atau Archimedes, tapi teori saya sendiri, Siklus Kaifa,” imbuhnya kalem. Siklus Kaifa yang menjadi dasar berbagai percobaan Joko – termasuk dalam menciptakan biocip – diambil dari rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an. Sulit bagi orang lain untuk mengetahui persis apa dan bagaimana Teori Kaifa, karena Joko sendiri lagi-lagi menyebut hal ini sebagai “rahasia perusahaan”. “Laboratorium” tempat anak-anaknya bekerja dan jeroan utama biocip pun dilabelinya “rahasia perusahaan”.

Makanya, Joko tak pernah khawatir, meski temuan biocipnya sampai saat ini belum dipatenkan. “Kalau ada orang yang mau tahu apa isinya, silakan saja dibongkar. Tapi terbuat dari apa bahannya, ‘kan dia belum tentu tahu,” yakinnya.

Ida Saraswati mengamini masih banyaknya “rahasia perusahaan”, “rahasia ilmu pengetahuan” atau apa pun namanya yang belum dikurasnya dari otak sang bapak, yang dia juluki “sumur tanpa dasar”. Itu sebabnya, ia dengan sadar memilih meninggalkan bangku SMA. “Di sekolah, yang diajarkan itu-itu saja. Tapi kalau pelajaran dari bapak, di perguruan tinggi pun belum tentu ada,” bilang Ida.

Berkat bapaknya, Ida yang dulu “buta komputer” jadi bisa bikin software. Keahlian itu didapatnya, pertama-tama dengan mencontoh sang bapak. Setelah itu, baru ia diajari fungsi-fungsinya. “Bapak mengajari kami sesuai kebutuhan,” Ida buka kartu. Contohnya, “Ketika saya ingin dia bisa membuat EEG (alat pemeriksa otak), saya beri contoh dulu cara bikin EEG. Tidak semuanya saya contohkan, tapi ada soal-soal yang harus juga dia pecahkan,” kali ini Joko angkat bicara.

“Saya punya perkiraan, sekian bulan dia sudah harus bisa membuat EEG sendiri. Itu artinya, tanpa menjadi doktor atau profesor, dia sudah menjadi pembuat EEG yang andal.” Semuanya dimulai dari hilir, alias “akhir riset”. Setelah itu, materi-materi yang terlewati (sesuai tingkat pendidikan Ida) “ditarik” ke hulu, agar Ida tahu fungsi dan kerja tiap bagian. Sampai ilmunya nyambung dan bersua dengan logika. Bayangkan jika proses penciptaan EEG itu dimulai dari dasar, pasti akan banyak waktu terbuang.

Efisiensi juga diterapkan Joko dalam mengatur waktu “kerja” dan belajar anak-anaknya. Setelah bangun tidur, salat Subuh dan mengaji, Ida dan adik-adiknya belajar bersama mulai pukul 08.00. Di sesi ini, Joko memberi pengarahan dan sedikit teori. Setelah itu, mereka memetik sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dimakan maupun diolah jadi bahan lain, minyak misalnya. Pukul 10.00, mereka sudah siap bekerja di “laboratorium”.

Sehabis salat Dzuhur, mereka kembali masuk lab, sampai saat salat Asar tiba. Waktu antara Asar dan Maghrib merupakan saat-saat untuk menghilangkan penat. Biasanya diisi dengan acara bebas. Seusai shalat Maghrib, mereka kembali memperdalam teori. Sampai akhirnya, setelah salat Isya, rutinitas itu berakhir. “Begitu terus, dari Senin sampai Sabtu,” aku Ida, sambil sesekali memainkan ujung jilbab dengan jari tangannya.

TAKUT KEHILANGAN TEMAN

Sebagai peneliti muda, jika boleh disebut begitu, Ida tak memungkiri adanya kendala psikologis saat meninggalkan bangku sekolah, sekitar lima tahun lalu. “Saya sedih, takut enggak punya teman,” ucapnya jujur. “Tapi sekarang enggak lagi. Terutama setelah jam belajar di rumah dikurangi dari 12 jam menjadi 8 jam, saya punya waktu untuk main dan berorganisasi. Sekarang teman saya sudah banyak lagi,” tambahnya.

Kadang, rasa malas juga datang. Akibatnya, target pekerjaan yang diberikan sang bapak tak tercapai. “Bapak sih enggak marah, tapi biasanya malah ikut bantu.” Ida mengaku, “Saya dan adik-adik sebetulnya tipe pemberontak. Kalau disuruh sesuatu tanpa alasan yang jelas, belum tentu mau menurut.” Begitu juga pas diberi pilihan terus atau meninggalkan bangku sekolah, Ida dan adik-adiknya tidak langsung mengangguk. “Kami mikir cukup lama,” kenangnya.

Ida mengaku jarang bersitegang dengan bapaknya. “Paling diem-dieman, gitu. Setelah itu, biasanya bapak duluan yang ngajak baikan. Mungkin saya paling sering berantem sama adik-adik,” ia mengulum senyum. “Ya, cuma soal kecil, seperti pembagian tugas ngebersihin rumah,” sambungnya. Terlihat jelas tanda-tanda kebahagiaan di matanya, ketika bercerita tentang bapak dan adik-adiknya yang “bandel”.

Ya, keluarga Joko Sasmito mungkin tak “mengenal” metode home schooling dan sejenisnya. Tapi dengan cara mereka sendiri, mereka mengeritik kemapanan, bahwa ijazah cuma formalitas. Kalau tantangannya hidup di masa depan, anak-anak harus mempunyai kemampuan. Kemampuan yang memungkinkannya menghidupi diri sendiri dan membantu orang lain.

→ 1 CommentCategories: Renung

Djaka Sasmita Sang Jenius

14 August, 2009 · 2 Comments

tulisan ini bagus dari http://terapinuklir.wordpress.com/ perlu didokumentasikan ke blog ini juga

Ilmu pengetahuan mampu menjelaskan hal-hal yang semula dianggap tak mungkin menjadi mungkin. Melalui ilmu pengetahuan pula Joko Sasmito berhasil menciptakan biochip, yang dalam perkembangannya sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran. Semua berawal dari Siklus Kaifa.

Sejumlah produk teknologi yang bermanfaat untuk kesehatan telah dibuatnya bersama kelima anaknya. Alat-alat ini antara lain pengetes gelombang otak, pengetes emosi diri, pengetes penyakit kanker getah bening dan kanker hati, magnetic resonance imaging (MRI), alat pemeriksa saraf, otot, dan jantung, serta modem.

Produk yang disebut terakhir ini belakangan direncanakan untuk diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Produk ini sendiri merupakan hasil penelitian selama delapan tahun oleh keluarga Joko bersama sejumlah tetangga yang tergabung dalam santri Isiteks (Islam Teknologi dan Seni) di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penemuan-penemuan teknologi di bidang kedokteran ini sebenarnya bukanlah tujuan awal Joko. Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada ini bersama sejumlah santri semula bermaksud menciptakan alat-alat elektronik mini yang dapat menghemat ruang.

Dalam perkembangan kegiatan penelitiannya, Joko malah lebih dulu berhasil menciptakan biochip sebagai alat pengetes kesehatan tubuh, yang sangat bermanfaat di bidang kedokteran, serta biochip sebagai alat terapi.

Biochip adalah benda organik sebagai materi inti. Ramuan dari sari hewan dan tumbuhan ini diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram, lalu dilekatkan pada lempengan kecil kawat, dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Alat ini berbeda dengan biochip-biochip lain yang, meski juga dibuat sebagai hasil teknologi, bahan utamanya dari anorganik.

Pada setiap kegiatan pengecekan dan terapi kesehatan terhadap pasien-pasiennya, Joko mentransfer materi inti pengobatan ini lewat gelombang (udara maupun listrik), disalurkan ke tubuh penderita.

Hantaran energi melalui gelombang ini pada tahap berikutnya, memampukan Joko mengobati pasien secara jarak jauh. Dengan menggunakan telepon biasa ataupun seluler, pengobatan yang berpusat dalam sistem komputer di rumahnya akan dihantar masuk ke pasien melalui gelombang.

”Saya berpikir bahwa ilmu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dan, bentuk pengobatan ini sangat dapat dijelaskan secara ilmiah,” tuturnya.

Empat dalil
Kita mungkin akan tak percaya bagaimana terapi biochip yang ditransfer lewat gelombang bisa menyembuhkan seseorang. Namun, Joko dapat menjelaskan secara ilmiah atas setiap produk temuannya.

Teori Siklus Kaifa menjadi dasar untuk setiap penemuan ini. Siklus ini mengacu pada salah satu ayat dalam sebuah surat di Al Quran. Ayat ini diterjemahkan menjadi empat dalil, yaitu adaptasi, filter, kecocokan, dan nilai integrasi. Setiap uji coba yang dilakukannya melalui empat dalil tersebut dan akhirnya menghasilkan karya chip non-bio. Namun, dalam perkembangannya, dia mengkreasikan chip dengan racikan bahan-bahan organik.

Tujuan Joko adalah supaya racikan bahan biochip ini tidak dapat ditiru tanpa harus dipatenkan. Kelebihan biochip ini adalah memiliki kepekaan lebih tinggi dalam mendeteksi suatu penyakit.

Joko mendidik lima anaknya untuk menjadi peneliti sekaligus penemu di bidang iptek meski mereka harus keluar dari sekolah formal. Ida Saraswati (23), anak pertama, kini telah membuat banyak perangkat lunak atau software dan Dika Sistrandari (21), Agus Siklawida (16) serta Tifa Siklawati (11) sebagai pembuat komponen data atau hardware. Adapun kemampuan membuat biochip diturunkan kepada anak ketiganya, Sikla Estiningsih (19).

Menurut Joko, merupakan pergumulan besar saat harus memberi pilihan bagi anak-anaknya untuk bersekolah formal atau belajar padanya. Saat anak-anak ini memutuskan untuk belajar pada Joko dan keluar dari sekolah masing-masing, tumbuh kesadaran akan konsekuensi bahwa kelimanya takkan memiliki ijazah pendidikan. ”Memang ada konsekuensi atas setiap pilihan,” tutur Sikla, anak ketiga.

Saat Kompas berkunjung kedua kalinya, sekira pertengahan bulan Januari, Joko tengah sibuk mengurusi salah seorang pasiennya yang sakit kritis. Hasil identifikasi biochip yang terpampang lewat komputer menunjukkan pasien tersebut mengidap penyakit kanker hati.

Komputer lainnya dipakai mendeteksi gerak jantung yang melambat, juga melalui biochip. Lalu, sebuah biochip lagi dipasang untuk menurunkan tingkat entropi (kerentaan fungsi organ). ”Kalau sudah kondisi darurat, kami harus gerak cepat menolong pasien,” tuturnya. (Irma Tambunan, Kompas, 27 Januari 2006)

→ 2 CommentsCategories: Renung

Djaka Sasmita-Ibnu Sina dari Bantul

14 August, 2009 · 2 Comments

Dokumen ini bagus, jadi saya perlu mendokumentasikan ke blog ini:
dari http://terapinuklir.wordpress.com/

Sekitar seribu tahun lalu lahir seorang tokoh yang kemudian menjadi pionir dalam bidang kedokteran modern. Namanya Ibnu Sina. Di Barat tokoh ini lebih dikenal dengan nama Avicenna. Ia bukan saja ahli mengobati berbagai penyakit, tapi juga seorang filsuf Islam yang sangat terkenal. Nah, kini dari Bantul Yogyakarta telah muncul Ibnu Sina yang lain. Namanya Djaka Sasmita, seorang ilmuwan jenius yang rendah hati tapi juga mahir mengobati berbagai penyakit.

Sebagai ilmuwan, Djaka berhasil menelorkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Sebagai “dokter”, ia telah berhasil menyembuhkan ribuah orang. Dalam mengobati penyakit, Djaka menggunakan metode terapi Gelombang Non Elektro Magnetik (GNEM). Gelombang ini dipancarkan dari komputer yang programnya dirancang sendiri oleh Djaka, demikian panggilan akrabnya. Dengan metode ini suatu penyakit dapat dideteksi secara lebih dini dan sangat akurat, sekaligus memberikan terapi secara tepat tanpa akibat samping.

Seorang bernama Bieke Rubindra setelah diperiksa dengan GNEM terdeteksi mengindap penyakit hipertiroid dan kanker getah bening. Karena tidak merasa ada keluhan, ia tak percaya. Dua tahun kemudian ia sakit dan setelah diperiksa di laboratorium medis, ia dinyatakan sakit kanker getah bening. Terbukti, GNEM mampu mendeteksi penyakit 2 tahun lebih cepat.

Dr Justiar Gunawan dari BPPT, anaknya terserang kanker otak dan leukemia. Dokter sudah angkat tangan. Kini berobat ke Djaka, keadaannya berangsung-angsur membaik. Tinggal terapi lewat telpon saja, katanya. Masih ada cerita lain. Amaliyah Madiyan, dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UGM ini terserang penyakit jantung. Akibatnya, ia merasa cepat letih. Kemudian ikut terapi di Isiteks (klinik kesehatan milik Djaka) selama 25 menit. Hasilnya, setelah ikut terapi 4 kali, kini penyakit jantung sembuh dan ia merasa segar kembali.

Anak Jenius Djaka Sasmita adalah anak keempat dari Djogo Pertiwi (alm), seorang juru kunci makam raja-raja Mataram Imogiri Bantul Yogyakarta. Terlahir 47 tahun lalu, Djaka kecil menempuh pendidikan SD dan SMP di Imogiri, lalu SMA diBantul. Begitu lulus ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Kimia. Dasar anak cerdas, sejak sekolah dasar Djaka selalu meraih juara, bahkan sewaktu kuliah sempat lompat dari tingkat pertama langsung ke tingkat tiga. Sebuah prestasi yang hanya dimiliki tiga dari ribuan mahasiswa seangkatannya di almamaternya. Ia memang mempunyai kecerdasan di atas teman-teman yang lain, kata Sabirin Mastjeh, kawan kuliah Djaka. Namun justru sejak kenaikan tingkat itu ia didera kegelisahan. Djaka tidak menemukan apa yang dicarinya. Belajar di perguruan tinggi baginya hanya membuang waktu. Sebab, yang dipelajari hal-hal yang tidak praktis dan menjemukan. Hukum-hukum yang diajarkan di kampus menurutnya tidak kuat dan banyak kelemahan. Djaka merasa tak bakal mencapai cita-citanya sebagai penemu yang dapat memberi sumbangan bagi dunia pengetahuan, apabila terus berkutat dengan kuliahnya. Djaka pun jadi malas kuliah dan memilih sibuk melakukan penelitian-penelitian sendiri. Hanya atas saran orang tua dan beberapa pihak, Djaka bersedia melanjutkan kuliahnya. Tetapi belum lagi lulus, ia sudah diminta mengajar di almamaternya. Bahkan pada tahun l977 oleh ketua program Matematika, Djaka diminta mengajar para dosen Matematika, Fisika dan Kimia. Uniknya, tiga tahun kemudian Djaka baru meraih gelar sarjana. Gelar doktornya diselesaikan di Belanda, yakni di bidang Thermodinamika di Universitas Utrecht (Belanda), tempat di mana Aristoteles pernah belajar. Di Utrecht Djaka lebih banyak mengikuti berbagai seminar dan diskusi ketimbang kuliah di ruang kelas. Di situlah ia memaparkan teori- teori temuannya. Mulanya banyak ilmuwan menentangnya. Namun setelah Djaka sedikit menjelaskan, mereka bisa menerima. Bisa jadi, itu karena mereka tidak mampu mematahkan teori-teorinya Djaka. Termasuk salah seorang profesor pembimbingnya sendiri akhirnya menyerah .” Ilmu saya tidak cukup untuk mengajari Anda, sayalah yang harus belajar pada Anda” , kata Sang Profesor. Praktis Djaka tidak banyak mengikuti kuliah selama di Belanda. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk belajar sendiri dan berkunjung ke berbagai perpustakaan. Di sinilah Djaka menemukan sebagian dari khazanah keilmuan Islam jaman dulu yang dicuri orang-orang Barat. Di perpustakaan Elschecunde yang terletak di jalan Padualan, ada beberapa karya ilmuwan Muslim dalam tulisan aslinya, kenangnya. Dari situ pula Djaka mengetahui bahwa dalil sinus cosinus itu penemunya adalah ilmuwan Muslim.

Dalam mengembangkan ilmunya kemudian, Djaka merasa cukup dengan al- Qur an saja. Al-Quran ini sudah lengkap kandungannya, tinggal kita baca, tambang dan olah saja , kata Djaka yang pernah nyantri di salah satu pesantren di Jawa Timur itu. Hal ini dibuktikannya, misalnya pada ayat nuurun alaa nuurin yang artinya cahaya di atas cahaya dipahaminya bahwa cahaya itu bertingkat- tingkat. Berdasarkan ayat ini, Djaka berhasil meracik berbagai peralatan medis yang memiliki kecepatan berlipat dibanding yang sudah ada. Misalnya Alat Laju Endap Darah (LED), dapat bekerja sepuluh kali lebih cepat dari peralatan biasa dengan kemampuan periksa hingga 64 pasien sekaligus. Temuan lainnya adalah alat test DNA yang di rumah sakit bisa memakan waktu beberapa hari, di klinik Djaka cukup dengan waktu setengah menit saja. Untuk menularkan ilmunya, pada tahun 1992 Djaka mendirikan Pesantren Terpadu ISITEKS (Islam, Ilmu, Teknologi dan Seni). Misinya memberikan bekal Islam, ilmu, teknologi dan seni yang handal bagi para santrinya. Mottonya, mengejar IPTEK bersumber dari al-Qur an . Ini memang bukan pesantren biasa, sebab kebanyakan santrinya adalah ilmuwan dari berbagai disiplin bidang ilmu seperti kedokteran, komputer, biologi, pertanian, kimia, fisika dan lainnya. Karena itu di ISITEKS ada beberapa pusat kajian. Misalnya seperti Pusat Kajian Kimia, Pusat Kajian Biologi, Pusat Kajian Teknologi Komputer, Pusat Kajian Kesehatan dll. Sebulan sekali, para santri Djaka datang untuk melakukan temu bidang multi disipliner. Masing-masing mengungkapkan perkembangan penelitian mereka dan Djaka memberikan arahan-arahan atau menunjukkan ketika seorang santri mengalami kebuntuan dalam penelitiannya. Kadangkala terjadi diskusi antar bidang dan Djaka menjembatani gap antar mereka dan menjadi penengahnya sehingga tak jarang berhasil memadukan beberapa penemuan. Beberapa santrinya kini telah menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Misalnya, Tebu Rendemen Tinggi. Bermula dari permintaan seorang kepala pabrik gula yang mengeluh rendahnya rendemen tebu (6%). Maka Pusat Penelitian Pertanian ISITEKS meneliti dan akhirnya menghasilkan benih tebu yang tak berbunga sehingga mampu menghasilkan rendemen tinggi hingga 24%. Hebatnya, penanamannya tak perlu dengan mencangkul dan memupuk. Cukup ditebar, dia akan tumbuh subur. Penemuan lain adalah alat Laju Endap Darah (LED). Dr Nur Asikin, seorang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di bawah bimbingan Djaka berhasil menemukan alat yang memiliki kecepatan 10 kali lipat dari alat yang sudah ada yakni dari 120 menit menjadi hanya 10 menit. Alat ini juga dapat digunakan sekaligus untuk 64 pasien.

Tentu saja dengan beberapa keberhasilan itu, mengundang banyak orang untuk menjadi santri. Tapi hanya sedikit yang diterima. “Saya ingin memastikan bahwa para santri belajar dengan niat yang ikhlas untuk memberikan sumbangan pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat untuk ummat. Saya ingin menjaga supaya aktifitas penelitian yang ada tidak dikotori oleh amal yang tidak shalih”. tegas Djaka. Pernah ada tawaran untuk menjadikan ISITEKS menjadi sebuah proyek pendidikan dengan menjanjikan dana ratusan juta rupiah, namun ditolak oleh Djaka. Karena saya melihat ada kepentingan materi di dalamnya katanya. Lebih baik sedikit tapi halal, kata Djaka seraya menambahkan bahwa apa yang dilakukannya lebih pada pertimbangan akhirat.

Kecewa dengan Pendidikan Menurut Djaka, pendidikan sebaiknya diselenggarakan untuk menjawab permasalahan di masyarakat dan memperhatikan tujuan pokoknya, yakni mau dijadikan apa dan untuk bisa apa sang siswa. Tentu saja tanpa mengabaikan ilmu-ilmu pendukung. Dengan demikian penyelenggaraan pendidikannya dapat lebih terpilih. Artinya, pelajaran yang diberikan adalah yang sesuai dengan minat setiap siswa dan kebutuhan masyarakat. Sehingga tak ada pelajaran yang diulang-ulang dan tidak terpakai di kemudian hari seperti yang banyak terjadi kini. Yang menjadikan bangsa kita mundur adalah karena kita sering belajar hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, kata Djaka. Atas dasar itulah, Djaka kemudian menarik keluar Ida Saraswati, putri pertamanya dari SMU Negeri. Putrinya itu kemudian dididik sendiri. Demikian juga dua adiknya. Hasilnya, enam bulan setelah keluar dari sekolah, Ida sudah bisa membuat alat pemeriksa gelombang otak atau EEG (Electro Encepalography). Sekarang, di usianya yang masih 19 tahun, Ida sudah pintar membuat chip komputer, dari komponen dasarnya sampai menjadi IC. Sementara bahasa programnya diracik oleh adiknya, Sikla Istiningsih (16) dan miniaturisasinya dikerjakan oleh anak ketiga, Dika Sistrandari (14). Apabila sekolah di luar, sampai lulus doktor pun belum tentu dia bisa membuat alat-alat tersebut, tandas Djaka meyakinkan, tanpa kesan bangga diri.

→ 2 CommentsCategories: Renung

Rahasia

19 January, 2009 · Leave a Comment

Kiriman dari temen semoga bermanfaat.

Ada sebuah kisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim.Hampir setiap orang pernah merasakan kezalimannya itu.
Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Dibawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya.

Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Betapa gembiranya raja mendengar kabar ini.

Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul kepermukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib walaupun belum musimnya, ternyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.
Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijakannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut.Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali.

Tapi apa yang terjadi? Ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak..! Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat.

Dikisahkan para malai kat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat; sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?”

Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah !

Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”

Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah bersayap ini.

Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga; sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita bila sedang tertimpa musibah.

Pelajaran kedua adalah: Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah ‘menghabiskan’ tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.

Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu karena orang itu telah berbuat kekeliruan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.

Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah ?
(diambil dari buku ” tutur bersayap “)

→ Leave a CommentCategories: Renungann

7%

19 January, 2009 · Leave a Comment

dari teman semoga bermanfaat

Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk berkomunikasi
dengan Tuhannya dan berkata, “Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat
seperti apakah Neraka dan Surga itu”.

Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan
kemudian membiarkannya melihat ke dalam.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar,
dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat
yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut
dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.

Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat
pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk
mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi.

Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai
mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil.

Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan
yang dilihatnya dalam ruangan itu.

Tuhan berkata, “Kamu sudah melihat NERAKA”

Lalu mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja
beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama dengan ruangan
di pintu pertama. Perbedaannya, di dalam ruangan ini orang-orang
tersebut berbadan sehat dan berisi dan mereka sangat bergembira di
keliling meja tersebut.

Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata “Apa
yang terjadi ? kenapa di ruangan yang kondisinya sama ini mereka
terlihat lebih bergembira ?”

Tuhan kemudian menjelaskan, “Sangat sederhana, yang dibutuhkan
hanyalah satu sifat baik”

“Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas menyuapi orang
lain yang dapat dicapainya dengan sendok bergagang panjang, sedangkan
di ruangan lain orang-orang yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan
dirinya sendiri “

Diperkirakan bahwa 93% penerima tidak akan mem forward cerita ini
. Bila anda termasuk sisa 7% yang akan mem forward nya, lakukanlah
dengan memberi judul 7% pada title nya.

Saya termasuk yang 7% tadi, ingatlah saya akan selalu ada untuk
berbagi sendok dengan anda!

→ Leave a CommentCategories: Renungann
Tagged:

1 Tamparan= 3 jawab

19 January, 2009 · Leave a Comment

dari seorang teman semoga bermanfaat.

RENUNGAN…. ….1 Tamparan 3 Pertanyaan
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri,
kembali ke tanah air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya
untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa
saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang
tersebut, seorang kiyai.

Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab
pertanyaan-pertanya an saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan
menjawab pertanyaan anda.

Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang
yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan
kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan
ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak
menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur
yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh
itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi
dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah
kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban
saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua
merasakan
kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar
oleh saya?
Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima
tamparan darisaya hari ini?
Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan
untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka
juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka
neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk
syaitan.

→ Leave a CommentCategories: Renungann
Tagged:

Tugas Arsitektur Komputer

31 October, 2008 · 7 Comments

Tugas Arsitektur Komputer makalah/paper algoritma booth.

Diupload lewat comment, ditulis nama, nim.

OK

→ 7 CommentsCategories: Renungann
Tagged: ,

Hidup Berarti Berputar

15 August, 2008 · Leave a Comment

Ternyata kalau kita cermati alam memberikan gambaran bahwa hidup itu harus terus berputar, bersiklus, berputar menurut garis edarnya. Kalau kita perhatikan Bulan terus berputar mengelilingi bumi, Bumi terus berputar mengelilingi Matahari, Matahari terus berputar mengelilingi Galaksi. Contoh lainnya elektron terus berputar mengelilingi ini atom, pompa jantung kita terus naik turun, dsb.
Pernahkan berpikir bahwa jika Bumi mogok perputar, maka jadinya sisi siang akan sangat panas sampai terbakar dan sisi malam menjadi dingin sampai membeku es, elektron mogok perputar maka ia akan jatuh ketarik inti atom, dsb.
Filosofi ini menjadikan mengapa kita perlu makan, mengapa kita perlu solat berulang-ulang 5 waktu sehari,  contoh dalam ibadah haji ada towaf mengelilingi ka’bah, tiap hari kita mandi, bersih-bersih, nyapu lantai, bekerja tiap hari, torak mesin motor harus terus naik turun agar mobil atau motor kita dapat bergerak dan seterusnya karena kalau tidak bersiklus maka berarti kita telah mati.
Ada suatu cerita yang dapat menjadi pelajaran bagi kita sebagai berikut: Suatu saat majikan rumah menyuruh pembantunya untuk menyapu lantai yang kotor. Tapi jawab si pembantu “Maaf tuan kalau disapu nanti juga kotor lagi”. Jawab si majikan “Baik kalau begitu jatah makan siangmu hari ini tidak ada , karena jika kamu makan nanti kamu juga lapar lagi”.

→ Leave a CommentCategories: Renungann
Tagged:

Laporan Ekperimens Wajanbolic, CanAntenna, Kabel Extender USB Wifi

27 June, 2008 · 37 Comments

Setelah bereksperimen dengan panduan dokumen dari berbagai sumber diinternet dari Pak Goen, Pak Onno dll. Akhirnya membuat wajanbolic dan can antenna sendiri tidak susah alias mudah. Semua dokumen tentang antena yang saya temukan dapat dicoba dengan baik.

Tetapi hal yang masih menjadi masalah adalah tidak mudah membuat kabel extender untuk USB wifi sepanjang 15-20 meter. Berikut ini aku sampaikan hasil ujicoba:

  1. Pembuatan kabel extender usb wifi dengen kabel UTP belden cat-5 20m. USB wifi TP-LINK. Konfigurasi penyambungan terminal ngikut P Goen/P Onno (4 kabel->negatif USb, 1 kabel ->data+ USB, 1 kabel->data- USb, dan 2 kabel->+vcc USB). Hasil tidak terdeteksi USB wifinya. Setelah di setting bios USB ke ver. 1 hasilnya USB wifi terdeteksi setengah2 (kadang ke deteks-kadang tidak) lampu tidak indikator USB tidak mau kelap-kelip.
  2. Selanjutnya kabel UTP dipotong jadi 15m, tetap gak mau.
  3. Konfigurasi penyambungan di ganti 2 kabel masing2 untuk (GND, VCC, -data, +data USB) bios USB ver.1 masih gak berhasil.
  4. Konfigurasi penyambungan langsung diterminal USB kabel yang 5-7rban (diambil terminal USB male dan female) dengan konfiguari +data (1 kabel), -data (1 kabel), VCC (2 kabel), GND (2 kabel), GND chasing (2 kabel). Hasil berhasil pada bios USB ver.2 , kalo ver.1 malah tidak berhasil. Keberhasilan (bios USb ke ver.2) ini langsung terlihat terdeteksi dan kelap-kelipnya lampu indikator di USB TP-Linknya. Kabel dicoba untuk USB flash disk lama kingstone 128M terdeteksi tapi tidak bisa browse data filenye. Dicoba dengan flashdisk A-Data 2GB berhasil lancar bisa browse dan copy dan transfer data. Indikator bahwa kabel extender kita berhasil adalah USB wifi kita terdeteksi dan yang penting saat dibuat scan lampu indikator USB Wifinya harus kelap-kelip.

Panduan lengkap cara pembuatan, penyambungan telah saya publish di http://anekawarna.890m.com

→ 37 CommentsCategories: WIFI