Artikel ini saya ambil dari webnya intisari online.
Sistem pendidikan kita dari SD sampai PT perlu mengaca pada apa yang telah dilakukan oleh saudara Joko Sasmito. Dengan didikan dan racikan ala beliau telah mampu menciptakan cendikiawan & ilmuwan2 yang hebat. Kalau dibandingkan dengan sistem pendidikan formal akan sangat jauh dan mungkin butuh waktu cukup lama.
Tetapi satu saran yang membangun untuk beliau, sebernarnya ide beliau dapat dikembangkan untuk salah satu (atau salah semua) sistem pendidikan kita. Tetapi memang juga dipahami oleh kita semua, tergantung pada siapa yang memimpin negeri ini apa pemerintah mau. Karena kompleksitas kepentingan dan urusan golongan masih menjadi nomor dua dinegeri ini. Tetapi kita tetap mengharap suatu saat masa-masa emas di Indonesia akan terwujud khususnya ilmuwan2 muslim. Semoga…
BERIKUT INI COPY LANGSUNG DARI WEB INTISARI ONLINE
==========================================
KRIPIK PEDAS DARI IMOGIRI
Rasanya sedikit orang yang seperti Joko Sasmito. Mantan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini memutuskan menjauhkan kelima anaknya dari pendidikan formal. “Sekolah hanya buang waktu dan uang,” kritiknya. Nah, lo! Dia ingin membuktikan: tanpa sekolah formal anak-anaknya tetap berpotensi jadi “orang”! Kini sebagian anaknya sudah menjadi “peneliti dan penemu muda” tanpa embel-embel gelar berkat didikannya di rumah.
Penulis: Muhammad Sulhi
“Kripik (kritik dan pembuktian) pedas” ala Joko Sasmito bak tonjokan buat dunia pendidikan nasional yang sudah berkarat dengan beragam opini negatif. Mulai komersialisasi sekolah, kurikulum yang nyaris berganti saban tahun, sampai kurangnya materi aplikasi yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal hidup di kemudian hari.

“Saya ingin anak-anak punya kemampuan yang betul-betul ada aplikasinya. Sekolah formal punya, tapi tidak seperti yang saya inginkan. Kalau saya paksa mereka bersekolah, sepertinya tak akan ‘jalan’,” bilang Joko, sembari melanjutkan, “Saya tidak antipendidikan formal. Tapi antipemborosan. Saya tempuh jalan ini supaya lebih efisien”.
Oh ya, buat yang masih belum mudeng, Joko Sasmito adalah penemu biocip (biochip), benda kecil yang tak hanya berfungsi sebagai miniatur cip (chip), tapi juga pengganti rangkaian beragam peralatan elektronik. Dengan biocip, beragam peralatan dapat diminiaturkan sehingga berukuran jauh lebih kecil daripada aslinya.
TAK USAH JADI PROFESOR
Joko tidak main-main. Dari kelima anaknya, hanya si sulung Ida Saraswati (24) yang sempat menempuh pendidikan sampai kelas II SMA. Anak kedua, Dika Sistrandari (22) cukup puas dengan lulus SMP, sedangkan anak ketiga Sikla Estiningsih (20) hanya lulus SD. Dua lainnya, Agus Siklawida (17) bersekolah sampai kelas I SMP, sementara si bontot Tifa Siklawati bahkan tak tamat SD.

Seperti dibilang Joko dan diamini Ida Saraswati, mereka sekeluarga kompak meyakini, kemampuan nyata jauh lebih penting daripada kemampuan formal. “Awalnya, mereka tetap saya sekolahkan, lalu saya hadapkan pada pilihan: apakah ingin tetap bersekolah atau mengikuti jejak saya sebagai peneliti,” cetus lelaki yang usianya menjelang kepala enam itu. Hebatnya, mereka semua memilih mengikuti jejak sang ayah. Kepercayaan mereka disambut Joko dengan penuh keyakinan.
“Sejak awal, saya sudah tahu apa saja yang layak diajarkan untuk mereka. Saya sudah menghitung, dengan sekolah yang ada sekarang, mereka tidak akan mencapai itu. Meskipun lulus perguruan tinggi, bahkan menjadi profesor sekalipun, belum tentu mereka bisa membuat biocip, misalnya,” imbuh Joko.
Penelitian yang dikembangkan keluarga Joko Sasmito tidak terpaku pada ilmu tertentu, tapi bersifat multidisiplin. Ida (yang sebelumnya tak pernah berkenalan dengan ilmu komputer), bertugas meneliti dan membuat software komputer, khususnya untuk mendukung hardware yang dihasilkan dua adiknya, Agus dan Dika. Sedangkan Sikla, punya tugas membuat biocip, sekaligus meminiaturkan penemuan adik-adiknya.
Dalam perjalanannya, kelima kakak beradik itu – di bawah bimbingan Joko tentunya – telah sukses membuat fonokardiograf (pendeteksi detak jantung), ekokardiograf (juga untuk jantung), alat pengukur kerja otak (electroencephalogram, EEG), perangkat terapi dan operasi jarak jauh, scanner, serta media penyimpanan seperti compact disc (CD) dan disket (yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan mereka).
Joko kini bahkan tengah mendorong anak-anaknya untuk membuat telepon seluler. Sejak putra-putrinya tak bersekolah lagi, sang bapak mencoba menempatkan diri sebagai penggugah semangat, sekaligus guru dan supervisor buat anak-anaknya. Istilah dia, “Saya yang membuat pertanyaan, lalu saya biarkan mereka berpikir mencari jawabannya.”
Daftar temuan di atas belum termasuk peralatan praktis yang tidak diminiaturkan, karena memang sengaja dibuat untuk pemakaian pribadi atau kemaslahatan umat. Misalnya, komputer pribadi, alat pemompa air otomatis, alat presensi mesjid, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya, Joko sampai tak bisa menyebutkan satu per satu.
Kolaborasi Ida, Dika, Sikla, Agus, dan Iva di laboratorium kini menjadi napas keluarga Joko Sasmito. Dalam menghasilkan dan memanfaatkan alat teleterapi (penyembuhan jarak jauh) contohnya, Agus dan Dika bertugas mengemas biocip teleterapi yang dihasilkan Sikla (kadang dibantu si bontot Iva) dalam kemasan mirip ball point, sehingga mudah di bawa ke mana-mana. Tapi alat itu tak akan bekerja sebagaimana mestinya jika tidak didukung software bikinan Ida.
Berkat software Ida, “permintaan pengobatan” dari telepon seluler pasien diterima dengan baik oleh telepon seluler keluarga Joko Sasmito, lalu dihubungkan secara otomatis ke komputer. Setelah melalui proses pengolahan data, komputer akan “menjawab” permintaan tadi dengan mengirim “obat” berupa sinar laser ke pasien, juga lewat jalur seluler.
“Bagaimana caranya sinar laser itu bisa terkirim lewat ponsel, biarlah menjadi ‘rahasia perusahaan’,” sebut Joko sambil mengumbar senyum tipis. “Yang pasti, bukan klenik atau sihir. Karena pengobatan yang dilakukan murni menggunakan gelombang dan bisa dijelaskan secara ilmiah,” sebut Joko lagi, yang mengklaim sembuhnya sejumlah penderita kanker getah bening dan kista dalam rahim.
DARI HILIR KE HULU
Joko Sasmito yang berlatar pendidikan formal kimia, mengaku menguasai ilmu-ilmu lainnya secara otodidak. “Dari buku hampir tidak ada bahan yang mendukung penelitian saya, begitu juga internet. Saya hampir tidak pernah melihat internet. Semua didapat dari coba-coba di ‘laboratorium’,” jelas lelaki sederhana ini, ketika ditanya dari mana asal ilmu multidisiplin yang ditularkan pada anak-anaknya.

“Saya tidak pakai teori Einstein atau Archimedes, tapi teori saya sendiri, Siklus Kaifa,” imbuhnya kalem. Siklus Kaifa yang menjadi dasar berbagai percobaan Joko – termasuk dalam menciptakan biocip – diambil dari rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an. Sulit bagi orang lain untuk mengetahui persis apa dan bagaimana Teori Kaifa, karena Joko sendiri lagi-lagi menyebut hal ini sebagai “rahasia perusahaan”. “Laboratorium” tempat anak-anaknya bekerja dan jeroan utama biocip pun dilabelinya “rahasia perusahaan”.
Makanya, Joko tak pernah khawatir, meski temuan biocipnya sampai saat ini belum dipatenkan. “Kalau ada orang yang mau tahu apa isinya, silakan saja dibongkar. Tapi terbuat dari apa bahannya, ‘kan dia belum tentu tahu,” yakinnya.
Ida Saraswati mengamini masih banyaknya “rahasia perusahaan”, “rahasia ilmu pengetahuan” atau apa pun namanya yang belum dikurasnya dari otak sang bapak, yang dia juluki “sumur tanpa dasar”. Itu sebabnya, ia dengan sadar memilih meninggalkan bangku SMA. “Di sekolah, yang diajarkan itu-itu saja. Tapi kalau pelajaran dari bapak, di perguruan tinggi pun belum tentu ada,” bilang Ida.
Berkat bapaknya, Ida yang dulu “buta komputer” jadi bisa bikin software. Keahlian itu didapatnya, pertama-tama dengan mencontoh sang bapak. Setelah itu, baru ia diajari fungsi-fungsinya. “Bapak mengajari kami sesuai kebutuhan,” Ida buka kartu. Contohnya, “Ketika saya ingin dia bisa membuat EEG (alat pemeriksa otak), saya beri contoh dulu cara bikin EEG. Tidak semuanya saya contohkan, tapi ada soal-soal yang harus juga dia pecahkan,” kali ini Joko angkat bicara.
“Saya punya perkiraan, sekian bulan dia sudah harus bisa membuat EEG sendiri. Itu artinya, tanpa menjadi doktor atau profesor, dia sudah menjadi pembuat EEG yang andal.” Semuanya dimulai dari hilir, alias “akhir riset”. Setelah itu, materi-materi yang terlewati (sesuai tingkat pendidikan Ida) “ditarik” ke hulu, agar Ida tahu fungsi dan kerja tiap bagian. Sampai ilmunya nyambung dan bersua dengan logika. Bayangkan jika proses penciptaan EEG itu dimulai dari dasar, pasti akan banyak waktu terbuang.
Efisiensi juga diterapkan Joko dalam mengatur waktu “kerja” dan belajar anak-anaknya. Setelah bangun tidur, salat Subuh dan mengaji, Ida dan adik-adiknya belajar bersama mulai pukul 08.00. Di sesi ini, Joko memberi pengarahan dan sedikit teori. Setelah itu, mereka memetik sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dimakan maupun diolah jadi bahan lain, minyak misalnya. Pukul 10.00, mereka sudah siap bekerja di “laboratorium”.
Sehabis salat Dzuhur, mereka kembali masuk lab, sampai saat salat Asar tiba. Waktu antara Asar dan Maghrib merupakan saat-saat untuk menghilangkan penat. Biasanya diisi dengan acara bebas. Seusai shalat Maghrib, mereka kembali memperdalam teori. Sampai akhirnya, setelah salat Isya, rutinitas itu berakhir. “Begitu terus, dari Senin sampai Sabtu,” aku Ida, sambil sesekali memainkan ujung jilbab dengan jari tangannya.
TAKUT KEHILANGAN TEMAN
Sebagai peneliti muda, jika boleh disebut begitu, Ida tak memungkiri adanya kendala psikologis saat meninggalkan bangku sekolah, sekitar lima tahun lalu. “Saya sedih, takut enggak punya teman,” ucapnya jujur. “Tapi sekarang enggak lagi. Terutama setelah jam belajar di rumah dikurangi dari 12 jam menjadi 8 jam, saya punya waktu untuk main dan berorganisasi. Sekarang teman saya sudah banyak lagi,” tambahnya.

Kadang, rasa malas juga datang. Akibatnya, target pekerjaan yang diberikan sang bapak tak tercapai. “Bapak sih enggak marah, tapi biasanya malah ikut bantu.” Ida mengaku, “Saya dan adik-adik sebetulnya tipe pemberontak. Kalau disuruh sesuatu tanpa alasan yang jelas, belum tentu mau menurut.” Begitu juga pas diberi pilihan terus atau meninggalkan bangku sekolah, Ida dan adik-adiknya tidak langsung mengangguk. “Kami mikir cukup lama,” kenangnya.
Ida mengaku jarang bersitegang dengan bapaknya. “Paling diem-dieman, gitu. Setelah itu, biasanya bapak duluan yang ngajak baikan. Mungkin saya paling sering berantem sama adik-adik,” ia mengulum senyum. “Ya, cuma soal kecil, seperti pembagian tugas ngebersihin rumah,” sambungnya. Terlihat jelas tanda-tanda kebahagiaan di matanya, ketika bercerita tentang bapak dan adik-adiknya yang “bandel”.
Ya, keluarga Joko Sasmito mungkin tak “mengenal” metode home schooling dan sejenisnya. Tapi dengan cara mereka sendiri, mereka mengeritik kemapanan, bahwa ijazah cuma formalitas. Kalau tantangannya hidup di masa depan, anak-anak harus mempunyai kemampuan. Kemampuan yang memungkinkannya menghidupi diri sendiri dan membantu orang lain.